Tipitaka Online

Bhikkhu Dhammaraja.

Senang Menjurus ke Sedih, Sedih Akan Berganti Senang (Kajian Atas Dhaniya Sutta)

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada Februari 10, 2011

Dhaniya adalah seorang penggembala yang bertemu dengan Sang Buddha ketika Beliau bersemayam di Savatthi. Saat itu menjelang musim hujan, tepat sebelum datangnya hujan. Dhaniya telah membangun tempat perlindungan yang kuat bagi dirinya, keluarganya, serta ternaknya di tepi Sungai Mahi. Tetapi Sang Buddha menyadari bahwa keluarga ini berada dalam bahaya dilanda banjir, maka Beliau muncul di tempat tinggal penjaga ternak itu tepat ketika dia sedang bersuka cita dalam kenyamanan dan keamanannya.

Dhaniya: Aku telah memasak nasiku dan memerah sapiku. Aku berdiam dengan orang-orangku di dekat tepi Sungai Mahi. Rumahku beratap rumbia, api telah menyala. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau.
Sang Buddha: Aku telah terbebas dari kemarahan, terbebas dari nafsu. Di malam hari aku berdiam di dekat tepi Sungai Mahi. Rumahku [tubuhku] tidak tertutup, api nafsu telah padam. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau !

Dhaniya: Lalat dan nyamuk tidak diketemukan. Padang rumputku hijau karena rumputnya subur di tanah berpaya. Ternakku dapat bertahan jika hujan datang. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau!
Sang Buddha: Olehku sebuah rakit yang kuat [Sang Jalan] telah dibuat. Aku telah menyeberangi banjir menuju Nibbana. Tak ada lagi gunanya rakit itu. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau!

Dhaniya: Gopi, istriku, bukanlah orang sembarangan dan dia patuh padaku. Sudah lama dia tinggal bersamaku dengan bahagia. Mengenai dirinya, aku tidak mendengar apapun yang jahat.
Sang Buddha: Pikiranku patuh dan terbebas dari nafsu. Amat lama sudah pikiran ini terlatih dan terkuasai dengan baik. Maka kejahatan tidak ditemukan di dalam diriku.

Dhaniya: Aku adalah majikan bagi diriku sendiri dan aku menyokong diriku sendiri. Putra-putraku semuanya sehat. Mengenai mereka, aku tidak mendengar apa pun yang jahat.
Sang Buddha: Aku bukanlah pelayan siapapun. Dengan tercapainya tujuanku [Ke-Buddha-an], aku berkelana di dunia; tidak lagi aku perlu melayani.

Dhaniya: Aku memiliki banyak sapi jantan muda dan sapi jantan kecil, juga banyak sapi betina kecil dan calon induk, serta seekor sapi jantan dewasa yang merupakan pemimpin kelompok itu.
Sang Buddha: Aku tidak memiliki sapi jantan muda atau sapi jantan kecil, tidak juga sapi betina kecil atau calon induk, atau pun sapi jantan dewasa yang merupakan pemimpin kelompok itu.

Dhaniya: Pancang telah ditegakkan dengan kokoh. Tali-talinya terbuat dari rumput munja baru dan dipintal kuat. Bahkan sapi-sapi muda pun tidak dapat mematahkannya.
Sang Buddha: Setelah mematahkan segala belenggu bagaikan seekor banteng, sebagaimana seekor gajah telah mematahkan tanaman rambat putilata, maka tidak akan ada lagi kelahiran bagiku.

Namun kemudian tiba-tiba turunlah hujan deras yang membanjiri segala permukaan, segala tempat dan celah. Ketika mendengar gelegar badai itu, Dhaniya mengucapkan kata-kata berikut ini:
Amat besar, sungguh besar keuntungan yang kita peroleh karena dapat bertemu dengan Sang Buddha, Yang Maha Tahu. Kepada Yang Mulia kami datang untuk berlindung, O, Yang Maha Melihat. Jadilah pelindung kami!
Baik istri maupun aku akan patuh kepada Yang Mulia dalam Ajaran Sugata, Yang Dinanti-nantikan. Kami akan menjalani kehidupan suci. Setelah mengatasi kelahiran dan kematian kami akan mengakhiri penderitaan.

Kemudian Mara muncul untuk menggoda Sang Buddha: Dia yang memiliki anak bergembira karena anak itu. Begitu juga, dia yang memiliki ternak pun bergembira karena ternaknya. Kegembiraan manusia ada pada perolehan (upadhi) indra-indranya . Maka ia yang tidak memiliki upadhi tidak memiliki kegembiraan.
Sang Buddha: Dia yang memiliki anak mempunyai kesedihan karena anak itu. Dia yang memiliki ternak mempunyai kesedihan karena ternaknya. Upadhi-lah penyebab penderitaan manusia. Tetapi dia yang tidak memiliki upadhi tidak memiliki penderitaan.

 

Iklan

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Apa Yang Dilakukan Buddha? (Kajian Atas Mahasaccaka Sutta)

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada Juli 31, 2010

Sesudah meninggalkan istana, perjalanan pertama Sang Buddha dalam pencarian batin adalah menemui seorang pertapa bernama Alara Kalama. Buddha lalu mencapai tingkat kesaktian meditasi yang disebut Kekosongan. Tapi ia menyatakan bahwa tingkat yang dicapainya bukan jalan menuju berakhirnya penderitaan, karena itu ia meninggalkan Alara Kalama dan meneruskan perjalanannya.
Lalu bertemu dengan pertapa Uddaka Ramaputta yang mengajarnya mencapai tingkat kesaktian meditasi yang disebut Bukan Persepsi Bukan Pula Non-Persepsi. Tapi Ia juga menganggap bahwa tingkat ini bukan jalan menuju berakhirnya penderitaan.
Buddha kembali mengembara hingga sampai di Senanigama di dekat Uruvela. Disana ada sebidang tanah yang cocok, ada taman yang menyenangkan, ada sungai jernih yang mengalir dengan tepinya yang bagus dan di dekatnya ada dusun sebagai tempat pindapata. Semua ini menyediakan sarana usaha bagi orang yang mau berusaha. Buddha duduk di sana dan berpikir: “Ini akan menjadi sarana untuk usaha.”

Lalu 3 perumpamaan muncul dipikiranNya:
1. Jika ada sepotong kayu basah lapuk, terletak di dalam air, dan seseorang datang dengan membawa kayu-api, sambil berpikir, “Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas” maka orang itu tak akan bisa menyalakan api dan menghasilkan panas dengan membenamkan kayu-api yang ia bawa dan digosok-gosokan pada kayu lapuk yang terletak di dalam air itu karena kayu itu terletak di dalam air. Karena itu orang itu akan mendapatkan kelelahan dan kekecewaan.
Begitupula dengan seorang petapa dan brahmana yang hidup dengan jasmani dan mental mereka belum menghindar dari keinginan indera, juga sementara nafsu-nafsunya, cinta kasih, kasih sayang, haus dan demam terhadap kesenangan indera belum ditinggalkannya dengan tuntas, maka jika pertapa maupun brahmana merasakan sakit, tersiksa, perasaan yang menusuk karena berhentinya kesenangan dalam dirinya, ia tak mampu mendapat pengetahuan (nana), pandangan (dassana) dan penerangan sempurna itu.
2. Jika ada sepotong kayu basah lapuk, terletak diatas tanah kering jauh dari air dan seseorang datang dengan membawa kayu-api, sambil berpikir, “Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas” maka orang itu tak akan bisa menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosok-gosokkan kayu-api itu pada sebatang kayu yang basah serta lapuk itu karena kayu itu basah, lapuk, meski terletak di tanah kering yang jauh dari air. Karena itu orang itu akan mendapatkan kelelahan dan kekecewaan.
Begitupula dengan seorang petapa dan brahmana yang hidup hanya meninggalkan pemuasan nafsu indera jasmaniah; sedangkan nafsu-nafsunya, cinta kasih, nafsu kerasnya, haus dan demam untuk keinginan keinginan indera tidak sepenuhnya ditinggalkan serta ditenangkan di dalam dirinya, maka jika pertapa maupun brahmana merasakan sakit, tersiksa, perasaan yang menusuk karena berhentinya kesenangan dalam dirinya, ia tak mampu mendapat pengetahuan (nana), pandangan (dassana) dan penerangan sempurna itu.
3. Jika ada sepotong kayu yang kering terletak di atas tanah yang jauh dari air, dan seseorang datang dengan membawa kayu-api, sambil berpikir, “Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas” maka orang itu akan bisa menyalakan api itu pada sebatang kayu kering.
Begitupula dengan seorang petapa dan brahmana yag meninggalkan keinginan-keinginannya, kasih sayangnya, nafsunya, haus dan demam untuk keinginan-keinginan indera telah sama sekali ditinggalkan dan ditenangkan dalam dirinya, kemudian, sekalipun seorang petapa maupun brahmana merasakan rasa sakit, rasa menyiksa, rasa menusuk disebabkan karena keinginan atau usaha usahanya itu, ia mampu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempurna agung karena ia tak berdiam pada keinginan-keinginan itu.

Ia berpikir, “Seandainya dengan gigi-gigiku tertutup rapat dan lidahku ditekan kuat-kuat pada langit-langit mulut, aku mengalahkan, memaksa dan menghancurkan pikiran dengan pikiran?” Sementara ia berbuat begitu kelelahan menderanya disebabkan oleh usaha yang menyakitkan itu. Tetapi perasaan menyakitkan yang terjadi pada diriNya itu, tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.

Ia lalu berpikir, “Seandainya aku melatih meditasi tanpa bernafas?” Sementara Ia berbuat begitu terjadilah suara yang amat keras oleh angin yang datang dari lubang-lubang telingaNya seperti suara keras dari teriakan seseorang. Tetapi perasaan menyakitkan yang terjadi pada diriNya itu, tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.
Ia berpikir: “Seandainya aku mempraktikkan lebih lanjut meditasi tanpa bernafas?” Sementara Ia berbuat begitu angin mengganggu kepalaNya seperti ada orang sedang membelah kepalaNya dengan pedang. Tetapi perasaan menyakitkan yang terjadi pada diriNya itu, tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.
Ia berpikir: “Seandainya lebih lanjut saya mempraktikkan meditasi tanpa bernafas?” Sementara Ia berbuat begitu terjadilah rasa sakit yang dahsyat di kepalaNya seperti seseorang sedang mengikat erat-erat ikat pinggang kulit di kepalaNya. Tetapi perasaan menyakitkan yang terjadi pada diriNya itu, tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.
Ia berpikir: “Seandainya aku melatih meditasi lebih lanjut tanpa bernafas?” Sementara Ia berbuat begitu angin dahsyat mengukir-ukir di dalam perutNya seperti seorang penjagal menggores-gores isi perut sapi dengan pisau tajam. Tetapi perasaan menyakitkan yang terjadi pada diriNya itu, tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.

Ketika para dewa melihat diriNya, mereka berkata: “Samana Gotama telah mati”. Dewa-dewa lain berkata: “Samana Gotama tidak mati, ia hampir mati”. Para dewa yang lain berkata: “Samana Gotama itu tidak mati dan bukan dalam keadaan mau mati; ia seorang Arahat. Inilah cara para Arahat.”
Ia lalu berpikir: “Seandainya aku samasekali tak makan?” Kemudian datanglah para dewa kepadaku dan berkata: “Saudara yang baik, janganlah tak makan sama sekali. Jika kamu berbuat begitu, Kami akan memasukkan makanan surga melalui pori-porimu dan kamu akan hidup atas makanan surga itu”.
Ia berpikir: “Jika aku memaksa untuk berpuasa total dan para dewa ini memasukkan makanan surga melalui pori-poriku dan saya hidup atas dasar itu, maka aku akan berbohong.” Maka Buddha menolak para dewa itu: “Tak perlu”.
Ia berpikir: “Seandainya aku hanya makan sedikit saja, katakanlah, setiapkali satu kepal, apakah makan itu adalah sop kacang atau sop miju-miju atau sop kacang-kacangan dll.”  Saat Buddha berbuat begitu, tubuhNya menjadi kurus sekali.

Ia berpikir: “Sesakit-sakitnya seorang pertapa dalam berusaha dimasalalu atau dimasadepan tak sesakit aku, tapi dengan praktek seberat ini kenapa aku masih belum menjadi Buddha? Mungkinkah ada jalan lain menuju Pencerahan?”
Ia berpikir: “Saat ayahku sedang sibuk, saat aku duduk dibawah rindangnya pohon jambuddhaya, jauh dari pemuasan nafsu indera, jauh dari hal buruk, saya memiliki pengetahuan mencapai dan berada di Jhana I dengan memiliki vitakka, vicara, piti yang dihasilkan oleh ketenangan. Apakah ini jalan menuju Pencerahan?”
Mengikuti ingatan itu muncullah realisasi: “Inilah jalan menuju Pencerahan.”

Ia berpikir: “Mengapa aku takut pada kesenangan? Itu adalah kesenangan yang tak ada hubungannya dengan keinginan-keinginan indriya dan hal buruk.”
Ia berpikir: “Saya tidak takut terhadap kesenangan-kesenangan itu, karena kesenangan-kesenangan itu tidak ada hubungannya dengan keinginan-keinginan indriya dan hal buruk.”
Ia berpikir: “Adalah tidak mungkin mencapai kesenangan semacam itu dengan badan yang sangat kurus. Seandainya aku makan sedikit makanan padat – sedikit nasi dan roti?” Buddha lalu makan sedikit makanan padat__sedikit nasi dan roti, tetapi pada waktu itu ada lima pertapa yang juga sedang menemani saya, berpikir: “Apabila Samana Gotama mencapai suatu kemajuan ia akan memberitahukan kepada kita”
Sesudah Buddha makan nasi dan roti, kelima pertapa menjadi muak dan meninggalkanNya sambil berpikir: “Samana Gotama telah berbalik menjadi memuaskan diri sendiri, ia telah meninggalkan usaha dan hidup mewah.”

Sesudah Ia makan makanan padat dan menemukan kembali kekuatanNya, karena jauh dari pemuasan nafsu indera dan hal buruk Ia mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh vitakka (usaha pikiran untuk menangkap obyek), vicara (obyek telah tertangkap), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran (ekagatta). Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul tak masuk ke dalam pikiranNya dan tinggal di sana. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul tak masuk ke dalam pikiranNya dan tinggal di sana. Dst… dst..

Begitulah seterusnya bagaimana Sang Buddha menggabungkan Vipassana Bhavana (kemampuan sekedar melihat proses batin tanpa harus ada pamrih untuk senang atau untuk tak senang) dan Samatha Bhavana (kemampuan mempercerah batin) sehingga mendapat level rahasia, yaitu Sannavedayitanirodha (lenyapnya persepsi dan perasaan) yang tak didapat dari dua gurunya.

Posted in Majjhima Nikaya | 1 Comment »

Orang-Orang Yang Takut Mati (Kajian Atas Abhaya Sutta)

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada November 16, 2009

Brahmana Janussoni berkata, “Aku sampai pada satu kesimpulan: Tak ada orang yang tak takut mati”.

Shakhyamunibuddha, “Sebenarnya ada yang takut, tapi ada pula yang tak.”

Ada 4 orang yang takut mati:
1. Ada orang yang belum menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya akan seks, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “wah, aku tak bisa ngeseks lagi”. Ia meratapi kehilangannya.
2. Ada orang yang belum menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya pada kebagusan fisiknya, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “wah, aku tak keren lagi”. Ia meratapi kehilangannya.
3. Ada orang yang belum terlatih melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Tak pernah melindungi yang lemah, malah terus berbuat salah, jahat, dan kejam. lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “wah, aku belum melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Tak pernah melindungi yang lemah, malah terus berbuat salah, jahat, dan kejam. Aku pasti masuk neraka.” Ia meratapi kehilangannya.
4. Ada orang yang belum masuk agama yang benar (agama buddhi) lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “aku masih belum masuk agama benar sudah mati”.  Ia meratapi kehilangannya.

Ada 4 orang yang tak takut mati:
1. Ada orang yang sudah menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya akan seks, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “aku sudah bebas dari seks”. Ia mati dengan tenang.
2. Ada orang yang sudah menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya pada kebagusan fisiknya, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “sudah saatnya aku mati”. Ia mati dengan tenang.
3. Ada orang yang sudah terlatih melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Juga melindungi yang lemah, dan cuma berbuat yang benar, baik, mulia. lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “aku sudah melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Juga melindungi yang lemah, dan cuma berbuat yang benar, baik, mulia. Aku akan ke surga.” Ia mati dengan tenang.
4. Ada orang yang sudah masuk agama buddhi lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “aku sudah berada di agama yang benar”.  Ia mati dengan tenang.

Brahma Janussoni berkata, “menakjubkan, Tuan Gotama! Menakjubkan. Tuan, melalui banyak alasan yang masuk akal, sudah membuat Dhamma menjadi jelas. Mulai sekarang aku berlindung pada Buddha, Dhamma, Sangha.”

death

Posted in Anguttara Nikaya | 1 Comment »

Samsara (Kisah Hidup Patacara)

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada Maret 30, 2009

Patacara merupakan putri seorang kaya dari Savatthi. Ia sangat cantik dan dijaga dengan sangat ketat oleh orang tuanya. Tetapi, suatu hari, ia meninggalkan rumahnya dengan kekasih pilihannya, seorang pelayan laki-laki dari keluarganya. Mereka pergi menetap di sebuah desa, kini ia sebagai istri orang miskin. Tidak berselang lama, ia hamil, dan pada saat persalinan sudah dekat, ia meminta izin kepada suaminya untuk kembali ke tempat orang tuanya di Savatthi. Tetapi suaminya melarang. Pada suatu hari, ketika suaminya pergi, ia pergi ke rumah orang tuanya. Suaminya mengikutinya, menangkapnya di perjalanan, dan memohon kepadanya untuk pulang bersama, tetapi ia menolak. Hal itu terjadi pada saat usia kelahiran sudah dekat. Akhirnya ia melahirkan anak laki-laki di semak-semak. Setelah melahirkan anaknya, ia kembali ke rumah bersama suaminya.

Sekali lagi hal di atas terjadi, ia hamil lagi, dan pada saat persalinan anaknya sudah dekat, ia pergi ke rumah orang tuanya di Savatthi. Suaminya mengikutinya dan menangkapnya di tengah perjalanan, tetapi saat persalinan datang dengan cepat dan juga hujan turun sangat lebat. Suaminya mencari tempat yang sesuai umtuk persalinan dan ketika ia membersihkan sebidang tanah, ia digigit oleh seekor ular berbisa. Ia meninggal dunia saat itu juga. Patacara menunggu suaminya dan pada saat menunggu itu ia melahirkan anak kedua. Pada pagi hari, ia mencari suaminya, tetapi ia hanya menemukan tubuh suaminya yang sudah kaku. Ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa suaminya meninggal dunia karena dirinya, kemudian ia meneruskan perjalanan ke rumah orang tuanya.

Karena hujan yang tak henti-hentinya sepanjang malam, sungai Aciravati menjadi banjir, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk menyeberangi sungai bersama kedua anaknya. Dengan meninggalkan anak tertua di tepi sungai sebelah sini. Ia menyeberangi sungai dengan anak laki-laki yang baru berumur sehari.

Ia menaruh bayi itu di tepi sungai, dan menyeberang kembali untuk menjemput anak tertua. Ketika ia berada di tengah sungai, elang besar melayang-layang menuju tempat anak kedua berada. Elang itu mematuknya seperti menggigit sepotong daging. Ia berteriak-teriak untuk menakuti-nakuti burung itu, tetapi semua itu sia-sia. Anak bayi itu telah dibawa pergi oleh elang besar. Pada saat itu anak yang tertua mendengar ibunya berteriak-teriak dari tengah sungai dan anak itu berpikir bahwa ibunya memanggilnya untuk datang kepadanya. Kemudian ia menyeberangi sungai untuk pergi ke tempat ibunya berada. Tetapi anak itu terbawa arus sungai yang sedang banjir. Patacara kehilangan ke dua anaknya, dan juga kehilangan suaminya.

Patacara mencucurkan air mata dan meratap dengan keras, “Seorang anak telah dibawa pergi seekor elang, anak yang lainnya terbawa arus, suamiku juga meninggal dunia digigit ular berbisa!” Kemudian ia melihat seorang laki-laki dari Savatthi dan dengan sedih menanyakan tentang orang tuanya. Laki-laki itu menjawab, badai yang terjadi di Savatthi kemarin malam telah merobohkan rumah orang tuanya dan kedua orang tuanya beserta tiga saudara laki-lakinya meninggal dunia serta telah dikremasikan di atas satu tumpukan kayu. Mendengar berita yang demikian tragis, Patacara menjadi gila, ia tidak peduli bahwa bajunya telah terlepas dari badannya, dan hampir tak berpakaian. Ia berlari-lari di sepanjang jalan, berteriak-teriak tentang kesengsaraannya.

Ketika Sang Buddha memberikan khotbah di Vihara Jetavana, Beliau melihat Patacara di kejauhan. Beliau menghendaki agar Patacara datang ke dalam pertemuan itu. Kerumunan orang mencoba untuk menghentikan Patacara, dengan mengatakan, “Jangan biarkan wanita gila itu masuk.” Tetapi Sang Buddha berkata kepada mereka agar tidak mencegah wanita itu masuk. Ketika Patacara cukup dekat untuk mendengar khotbah, Beliau berkata kepadanya untuk berhati-hati dan tenang. Kemudian ia menyadari bahwa ia hampir tidak memakai pakaian dan dengan malu ia duduk. Seorang yang hadir memberinya secarik kain, dan ia membungkus dirinya dengan kain itu. Ia kemudian berkata kepada Sang Budha bagaimana ia telah kehilangan anaknya, suaminya, saudara laki-lakinya dan orang tuanya.

Sang Buddha berkata kepadanya, “Patacara, jangan takut, kamu telah datang kepada seseorang yang dapat melindungimu dan membimbingmu. Sepanjang proses lingkaran kehidupan ini (Samsara), jumlah air mata yang telah kamu kucurkan atas kematian anakmu, suamimu, orang tuamu, dan saudara laki-lakimu sangat banyak, lebih banyak dari air yang ada di empat samudra.” Kemudian Sang Buddha menjelaskan dengan rinci “Anamatagga Sutta”, yang menjelaskan perihal kehidupan yang tak terhitung banyaknya. Berangsur-angsur Patacara merasa tenang. Kemudian Sang Buddha menambahkan bahwa ia seharusnya tidak berpikir keras tentang sesuatu yang telah pergi, tetapi seharusnya mensucikan diri dan berjuang untuk merealisasikan nibbana. Mendengar nasehat dari Sang Buddha, Patacara mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Patacara menjadi seorang bhikkhuni. Pada suatu hari, ia sedang membersihkan kakinya dengan air dari tempayan. Pada saat ia menuangkan air untuk pertama kalinya, air tersebut hanya mengalir pada jarak yang pendek kemudian meresap; kemudian ia menuangkan untuk kedua kalinya. Air tersebut mengalir sedikit lebih jauh. Tetapi air yang dituangkan untuk ketiga kalinya mengalir paling jauh. Dengan melihat aliran dan menghilangkan air yang dituangkan sebanyak tiga kali, ia mengerti dengan jelas tiga tahapan di dalam kehidupan makhluk hidup.

Sang Buddha melihat Patacara melalui kemampuan batin luar biasaNya dari Vihara Jetavana, mengirimkan seberkas sinar dan memperlihatkan diri sebagai seorang manusia. Sang Buddha kemudian berkata kepadanya, “Patacara kamu sekarang pada jalan yang benar, dan kamu telah tahu pandangan yang benar tentang kelompok kehidupan (khandha). Seseorang yang tidak mengerti corak tidak-kekal, tidak-memuaskan, dan tanpa-inti dari khandha adalah tidak bermanfaat, walaupun ia hidup selama seratus tahun.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 113 berikut:

“Yo ca vassasatam jive
apassam udayabbayam
ekaham jivitam seyyo
passato udayabbayam.”

Walaupun seseorang hidup seratus tahun,
tetapi tidak dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi,
sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi.

Patacara mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
 

 patacara

Posted in Dhammapada | Leave a Comment »

Kamma dan Hasilnya (Kajian Atas Culakammavibhanga Sutta)

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada Maret 13, 2009

 heroes

 

Demikianlah yang saya dengar: Pada suatu kesempatan, Yang Diberkati berdiam di Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Kemudian Subha sang murid, putra Todeyya, menghadap Yang Diberkati dan bertukar salam denganNya, dan ketika percakapan yang sopan dan ramah berakhir, ia duduk di satu sisi. Sesudah itu, Subha sang murid bertanya kepada Yang Diberkati:

“Guru Gotama, apakah alasannya, apakah kondisinya, mengapa sifat yang rendah dan unggul dipertemukan di antara insan, di antara umat manusia? Karena seseorang berjumpa dengan mereka yang pendek dan panjang usia, mereka yang sakit dan tampan, mereka yang diremehkan dan yang ber­pengaruh, mereka yang miskin dan kaya, mereka yang mem­punyai kelahiran yang hina dan yang agung, mereka yang bodoh dan bijaksana. Apakah alasan dan kondisinya, mengapa sifat yang rendah dan keunggulan dipertemukan di antara insan, di antara umat manusia?”

“Wahai Murid, manusia adalah pemilik karma, pewaris karma, mereka memiliki karma sebagai !eluhurnya, karma sebagai sanak saudaranya (tanggungjawabnya), karma sebagai tempat tinggal mereka. Karmalah yang membedakan sifat rendah dan unggul di antara umat manusia.”

“dengarkanlah, wahai Murid, dan per­hatikanlah dengan baik apa yang akan saya katakan.”

“Baiklah, Guru,” jawab Subha sang murid. Yang Diberkati menuturkan hal di bawah ini:

“Ini adalah jalan menuju usia pendek, yakni, menjadi pembunuh makhluk hidup, kejam, tangan yang berlumuran darah, menyerah pada keributan dan kekerasan, tidak berbelaskasihan terhadap semua makhluk hidup.”

“ini adalah jalan yang mengarahkan pada panjang usia, yakni, tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup, berpantang membunuh makhluk hidup, menyingkirkan cambuk dan pisau, baik budi dan selalu penuh belas kasihan, dan selalu peduli terhadap kesejahteraan makhluk hidup.”

“Ini adalah jalan yang mengarah pada keadaan berpenyakitan, yakni, menjadi penganiayaan makhluk hidup dengan tangannya, atau dengan batu, atau dengan tongkat, atau dengan pisau.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada kesehatan, yakni, tidak menjadi penganiaya makhluk hidup dengan tangannya atau dengan batu atau dengan tongkat atau dengan pisau.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada keburukan wajah, yakni, menjadi sangat geram, marah, bersikap tidak ramah, benda dan menunjukkan tabiat jelek, kebencian dan kebengisan.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada kebagusan wajah, yakni, tidak menjadi marah atau menyerah kepada kemarahan; bahkan ketika banyak yang dikatakan, tidak menjadi geram, marah, bersikap tidak ramah, atau benci, atau menunjukkan tabiat jelek, kebencian atau kebengisan.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada pelecehan, yakni, menjadi pendengki, mendengki, ini, dan menunjukkan kedengkian pada keberuntungan, kehormatan, pemujaan, rasa hormat, salam dan persembahan orang lain.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada pengaruh, yakni, tidak menjadi pendengki, tidak mendengki, ini, atau menunjukkan kedengkian terhadap keberuntungan, kehormatan, pemujaan, rasa hormat, salam dan persembahan orang lain.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada kemiskinan, yakni, tidak menjadi penderma makanan, minuman, pakaian, sandal, karangan bunga, wewangian, salep, tempat tidur, tempat berteduh dan penerangan kepada para bhikkbu dan orang suci.”

“mi adalah jalan yang mengarah pada kekayaan, yakni, menjadi penderma makanan, minuman, pakaian, sandal, karangan bunga, wewangian, salep, tempat tidur, tempat berteduh, dan penerangan kepada para bhiksu dan orang suci.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada kelahiran yang hina, yakni, menjadi keras kepala dan angkuh, tidak membeni penghormatan kepada siapa ía seharusnya memberi penghormatan, tidak bangkit melawan terhadap siapa ia seharusnya melawan, tidak memberi tempat kepada kepada siapa ia seharusnya memberi tempat, tidak memberi jalan kepada siapa ia seharusnya memberi jalan, tidak menyembah ia yang seharusnya disembah, tidak menghargai ia yang seharusnya dihargai, tidak memuja ia yang seharusnya dipuja, tidak menghormati ia yang seharusnya dihormati.”

“ini adalah jalan yang mengarah pada kelahiran yang agung, yakni, tidak menjadi keras kepala dan angkuh, memberikan penghormatan kepada siapa ia seharusnya memberikan penghormatan, bangkit… memberi tempat kepada… memberijalan untuk… menyembah… menghormat…. memuja…. menghormati ia yang seharusnya dihormati.”

“ini adalah jalan yang mengarah kepada kebodohan, yakni, ketika mengunjungi rahib atau orang suci, tidak menanyakan: Apakah yang menguntungkan?_. Atau apakah, dengan melakukannya, saya akan lama mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan?”

“ini adalah jalan yang mengarah kepada kebijaksana­an, yakni, ketika mengunjungi bhikshu atau orang suci, me­nanyakan: Apakah yang menguntungkan?  Atau apakah, dengan melakukannya, saya akan lama mendapatkan ke­ sejahteraan dan kebahagiaan?”

 
“Jadi, wahai Murid, jalan yang mengarah kepada pendek usia membuat manusia berusia pendek, jalan yang mengarah pada panjang usia membuat manusia berusia panjang; jalan yang mengarah pada berpenyakitan membuat manusia sakit, jalan yang mengarah pada kesehatan membuat manusia sehat; jalan yang mengarah pada keburukrupaan membuat manusia buruk rupa, jalan yang mengarah pada kerupawanan membuat manusia rupawan; jalan yang mengarah pada peremehan membuat manusia diremehkan, jalan yang mengarah pada pengaruh membuat manusia berpengaruh; jalan yang meng­arah pada kemiskinan membuat manusia miskin, jalan yang mengarah pada kekayaan membuat manusia kaya; jalan yang mengarah pada kelahiran yang hina membuat manusia lahir hina,jalan yang mengarah pada kelahiran yang agung membuat manusia lahir agung; jalan yang mengarah pada kebodohan membuat manusia bodoh, jalan yang mengarah pada ke­bijaksanaan membuat manusia bijaksana”

Ketika sudah dituturkan, Subha sang murid, putra Todeyya, berkata kepada Yang Diberkati: “Bagus sekali, Guru Gotama Bagus sekali, Guru Gotama Dhamma telah diperjelas dengan berbagai jalan oleh Guru Gotama, seperti menegakkan apa yang terbalik, menampakkan yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada yang tersesat, memegang lampu dalam kegelapan bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat.

“Saya pergi ke Guru Gotama untuk perlindungan, dan kepada Dhamma dan Sangha. Mulai hari ini biarlah Guru Gotama menerima saya sebagai pengikut yang telah meng­hadapNya untuk mencari perlindungan selama hidup.”

Posted in Majjhima Nikaya | 1 Comment »

Jataka 69 – Ular Yang Memiliki Tekad

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada Februari 12, 2009

Pada suatu masa ada seorang dokter yang ahli dalam menyembuhkan luka akibat gigitan ular. Suatu hari, ia didatangi oleh sanak saudara dari seorang laki-laki yang telah digigit oleh seekor ular yang sangat berbisa.

Dokter tersebut berkata kepada mereka,”Ada dua cara untuk menyembuhkan luka akibat gigitan ular ini. Pertama adalah dengan memberikan obat. Yang lainnya adalah dengan menangkap ular yang menggigitnya dan memaksanya untuk menyedot keluar racunnya sendiri. “Keluarga itu berkata,”Kami memilih untuk mencari ular itu dan memaksanya untuk menyedot racunnya keluar.”

Setelah ular tersebut tertangkap, dokter itu bertanya kepada ular,”Apakah engkau telah menggigit lelaki ini?”

“Ya,”jawab ular.”Baiklah,” kata sang dokter,”Kamu harus menyedot keluar racun kamu sendiri dari luka itu.”Tetapi ular yang keras hati menjawab,”Menyedot racun saya sendiri? Tidak akan! Saya tidak pernah melakukan hal tersebut dan saya tidak akan pernah!”

Kemudian dokter tersebut menghidupkan api ungun dan berkata kepada ular tersebut,”Jika kamu tidak menyedot keluar racun itu, saya akan melempar kamu ke dalam api dan menbakarmu.”

Tetapi sang ular telah membulatkan tekatnya. Ia berkata,”Saya lebih baik mati!” Dan ia mulai berjalan menuju api.
Selama hidupnya, dokter ahli gigitan ular itu tidak pernah menyaksikan hal seperti ini! Ia merasa kasihan kepada ular yang berani itu dan menghalanginya memasuki kobaran api. Ia menggunakan obatnya dan mantra gaib untuk menyembuhkan racun sang penderita tersebut.

Sang dokter sangat mengagumi keteguhan hati sang ular. Ia tahu bahwa jika sang ular dapat memanfaatkan keteguhan hatinya dengan cara yang benar, tentu ia akan dapat mencapai kemajuan dalam dirinya. Maka dokter tersebut mengajarkan kepadanya lima latihan sila untuk menghindari tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Kemudian ia melepaskannya dan berkata,”Pergilah dalam kedamaian dan jangan menyakiti siapa pun.”

 

Hikmahnya :
Keteguhan hati mendatangkan rasa hormat.

Posted in Khuddaka Nikaya | 2 Comments »

Apa Yang Dilakukan Seorang Sotapanna? (Kajian Atas Kosambiya Sutta)

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada Januari 5, 2009


6 sifat kondusif untuk bhikku yang berguna untuk mencegah pertengkaran sangha, membangun cinta dan harmoni antar sesama bhikku:
1. Mempertahankan nilai-nilai penuh cinta melalui perbuatan.
2. Mempertahankan nilai-nilai penuh cinta melalui ucapan.
3. Mempertahankan nilai-nilai penuh cinta melalui pikiran.
4. Mempertahankan sikap sama rata di antara para bhikku akan harta yang didapat.
5. Mempertahankan moralitas secara bersama-sama.
6. Mempertahankan untuk meneruskan pengamatan atas 4 jalan mulia, hingga mencapai tingkat kesucian pertama (Sotapanna).

Mahapaccavekkhananana (7 kemampuan yang dilakukan Sotapanna):

1. Ia mempertimbangkan, “Adakah obsesi yang belum muncul, tertinggal padaku yang mungkin mengobsesi pikiranku sehingga aku tidak dapat mengetahui atau melihat segala sesuatu sebagaimana adanya?”
Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh nafsu indera, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh niat jahat, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh kemalasan dan kelambanan, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh kegelisahan dan penyesalan, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terobsesi oleh keraguan, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terserap di dalam spekulasi tentang dunia ini, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu terserap di dalam spekulasi tentang dunia lain, maka pikirannya terobsesi. Jika seorang bhikkhu suka bertengkar dan bercekcok dan terbenam di dalam perselisihan, saling menikam dengan belati ucapan, maka pikirannya terobsesi.
Ia lalu mengetahui “Tidak ada obsesi yang belum-ditinggalkan padaku yang mungkin mengobsesi pikiranku sehingga aku tidak dapat mengetahui atau melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Pikiranku sudah disiapkan dengan baik untuk terjaga bagi kebenaran-kebenaran

2.Ia lalu mempertimbangkan, “Jika aku mengejar, mengembangkan, dan membina pandangan ini, apakah memperoleh ketenangan internal, apakah aku secara pribadi memperoleh keheningan?”
Ia lalu mengetahui “Jika aku mengejar, mengembangkan, dan membina pandangan ini, maka aku memperoleh ketenangan internal, aku secara pribadi memperoleh keheningan

3. Seseorang lalu mempertimbangkan, “Apa ada petapa atau brahmana lain diluar Ajaran Buddha yang memiliki pandangan seperti yang kumiliki?’
Ia lalu mengetahui “Tidak ada petapa atau brahmana lain di luar Ajaran Buddha yang memiliki pandangan seperti yang kumiliki

4. Ia lalu mempertimbangkan, “Apa aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar?”
Apakah karakter manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah karakter manusia yang memiliki pandangan benar: walaupun dia mungkin melakukan suatu jenis pelanggaran yang sarana rehabilitasinya telah ditetapkan, tetap saja dia segera mengaku, mengungkapkan dan menyatakan kepada guru atau kepada teman-temannya yang bijaksana di dalam sangha, dan setelah melakukan hal itu, dia mengendalikan diri di masa depan.
Ia lalu mengetahui “Aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar

5. Ia lalu mempertimbangkan, “Apa aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar?”
Apakah karakter manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah karakter manusia yang memiliki pandangan benar: walaupun dia mungkin aktif di dalam berbagai macam urusan untuk teman-temannya di dalam sangha, namun dia memiliki kesungguhan untuk pelatihan di dalam moralitas yang lebih tinggi, pelatihan di dalam pikiran yang lebih tinggi.
Ia lalu mengetahui “Aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar

6. Ia lalu mempertimbangkan, “Apa aku memiliki kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar?”
Apakah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar: ketika Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagata sedang diajarkan, dia memperhatikannya, memberikan perhatian, menyimak dengan segenap pikirannya, mendengar Dhamma dengan telinga yang waspada.
Ia lalu mengetahui “Aku memiliki kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar

7. Ia lalu mempertimbangkan, “Apa aku memiliki kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar?”
Apakah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar itu? Inilah kekuatan manusia yang memiliki pandangan benar: ketika Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagata sedang diajarkan, dia memperoleh inspirasi di dalam maknanya, memperoleh inspirasi di dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang terhubung dengan Dhamma.
Ia lalu mengetahui “Aku memiliki karakter manusia yang memiliki pandangan benar

Posted in Majjhima Nikaya | Leave a Comment »

7 Cara Menghilangkan Penderitaan (Kajian Atas Sabasava Sutta)

Posted by Bhikkhu Dhammaraja pada Agustus 31, 2008

Perisai Genta Emas

1. Dukkha dapat dihilangkan dengan melihat (dassana).
Belajar Agama Buddha asli seperti Buddhi dan Theravada, sehingga bisa melihat asal usul penderitaan dan bagaimana mengakhirinya.

2. Dukkha dapat dihilangkan dengan pengendalian diri (samvara).
“Bahiya, berlatihlah seperti ini: di dalam  apa yang terlihat, hanya ada apa yang terlihat; di dalam apa yang terdengar, hanya ada apa yang terdengar; di dalam apa yang tercerap oleh indra, hanya ada apa yang tercerap oleh indra; di dalam apa yang dikenal, hanya ada apa yang dikenal. Demikian hendaknya engkau berlatih. Jika bagimu di dalam apa yang terlihat hanya ada yang terlihat …., maka tidak ada
engkau dalam kaitan dengan itu. Jika tidak ada engkau dalam kaitan dengan itu, tidak ada engkau di situ. Jika tidak ada engkau di situ, engkau tidak ada di sini, tidak ada di sana dan tidak ada di antaranya. Inilah, dan hanya inilah, akhir dari dukkha.” – bahiya sutta

3. Dukkha dapat dihilangkan dengan penggunaan (patisevana) .
Contoh: jika keluar dalam cuaca dingin pakailah jaket, usahakan kamar tidur dilengkapi kawat nyamuk sehingga malamnya tak digigit nyamuk, dsb.

4. Dukkha dapat dihilangkan dengan penahanan (adhivasana) .
Contoh: Jika berada di hadapan muslim hati-hati jika bicara, jika tak mau dibacok. Yang paling aman adalah bicara di hadapan Anand Khrisna, meski omongkosong pun akan diterima dengan senang hati, karena ia pun suka berbuat begitu.

5. Dukkha dapat dihilangkan dengan penghindaran (parivajjana) .
Jangan nekad menyeberang di jalan yang ramai tanpa menggunakan jembatan penyeberangan, jangan masuk hutan tanpa persiapan memadai agar tak dimangsa hewan buas.

6. Dukkha dapat dihilangkan dengan penghapusan (vinodana).
Mengatur bawahsadar agar pikiran cuma menyerap hal yang berguna saja. Mengambil banyak bagian-bagian semua agama bukan berarti sudah baik. Jika salah untuk apa dikoleksi? Yang bagus dan benar itu seperti yang dicontohkan Buddha saat meraup sejumlah daun dari hutan “yang mana yang lebih banyak. daun yang dihutan. begitupula pengetahuanku, banyak tapi cuma sedikit yang kuberi, yaitu yang membebaskanmu saja.” Ya, Buddha benar. jika orang diajari kungfu, malah ingin terlahir di alam Brahma. dan jika diberi buku kamasutra pasti ingin terlahir di alam indra. Untunglah Buddha cuma memberi Dhamma. Jadi, kita semakin cepat dan tepat dalam menuju pembebasan.

7. Dukkha dapat dihilangkan dengan pengembangan (bhavana).
Vipassana adalah satu-satunya cara menuju pembebasan. Meditasi tak bisa. “satu-satunya cara oh bikhu untuk mencapai pembebasan adalah dengan 4 kontemplasi/ vipassana” – mahasatipathana sutta.

(Sabasava Sutta)

Posted in Majjhima Nikaya | 25 Comments »